Sunday, April 24, 2011

Doa Sang Nabi SAW Untuk Yang Sakit

Ditulis Oleh: Munzir Almusawa   
Friday, 09 October 2009
Doa Sang Nabi SAW Untuk Yang Sakit
Senin, 5 Oktober 2009


عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَّ كَانَ يَقُوْلُ لِلْمَرِيْضِ بِسْمِ اللهِ تُرْبَةُ أَرْضِنَا بِرِيْقَةِ بَعْضِنَا يُشْفىَ سَقِيْمُنَا بِإِذْنِ رَبِّنَا ( صحيح البخاري
“ Berkata Ummul Mu’minin Aisyah RA : Sungguh Nabi SAW berdoa untuk yang sakit ; Dengan Nama Allah , dengan tanah bumi kami, dan air liur di antara kami, sembuhlah yang sakit dari kami dengan izin Tuhan kami”. ( Shahih Al Bukhari )


ImageAssalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..
حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ، وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ، اْلحَمْدُلِلهِ الَّذِيْ هَدَانَا، بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ، وَقَدْ نَادَانَا، لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ، الْحَمْدُلِلهِ الَّذِي جَمَعَنَا، اَّلذِيْ أَحْضَرَنَا، اَّلذِيْ قَدْ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ
Limpahan puji ke hadirat Allah Maha Raja langit dan bumi, Maha menguasai kehidupan, Maha menenangkan permukaan bumi dengan pengaturan yang sempurna, Maha menjadikan setiap kejadian mengandung hikmah-hikmah yang luhur dari kesempurnaan kelembutan Allah SWT, maka Allah SWT telah berfirman
مَايَفْعَلُ اللهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَأَمَنْتُمْ وَكَانَ اللهُ شَاكِرًا عَلِيْمًا ( النساء : 147
“ Allah tidak akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman. Dan sungguh Allah Maha berterima kasih, Maha Mengetahui “. ( QS. An Nisa’ : 147 )
وَكَانَ اللهُ شَاكِرًا عَلِيْمًا
“ Dan sungguh Allah itu Maha berterima kasih kepada hamba-hambaNya dan Maha mengetahui hamba-hambaNya yang bersyukur “
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..

Kalimat ini menafikan ( mentiadakan ) musibah yang turun jika jiwa yang bersyukur timbul dan makmur di suatu wilayah, namun ketika manusia di dalam ghaflah ( lalai ) berbeda dengan ummat as saabiqah ( ummat terdahulu ), karena ummat yang terdahulu jika mereka kufur dan dosa maka Allah murka dan melimpahkan azab. Namun, khusus untuk ummat mulia Sayyidina Muhammad SAW Jika Allah SWT melihat hambaNya sepi dari majelis zikir, sepi dari majelis mulia dan selalu dalam ghaflah maka Allah mencabut kenikmatan duniawinya dan menjadikan kesedihan itu sebagai penggantian untuk keluhuran yang abadi.
Hadirin hadirat..
Walaupun apa yang kau dengar dari penyampaian di media, jangan sampai mengguncang jiwamu bagaimana dengan kelembutan Allah, sungguh kelembutan Allah melebihi segala kelembutan, perbuatanNya sangat indah dan tidak sampai alam pemikiran kita mencapainya. Dia Allah Maha Mulia dan Maha Luhur. Sungguh pencabutan kenikmatan dunia adalah hal yang remeh dibandingkan bila digantikan dengan kenikmatan yang abadi. Kita melihat kebakaran, gempa bumi, banjir, dan lain sebagainya itu bukan hal yang membuat suatu kerusakan ataupun kehancuran atau ketidakdamaian di muka bumi, tetapi Sang Maha Pemelihara sedang membenahi dosa-dosa hambaNya, sedang melimpahkan kelembutannya dan mengikis dosa mereka dan memuliakan mereka. Ada yang wafat di dalam tenggelam atau banjir atau gempa bumi mereka dalam kelompok syuhada’ (selama mereka muslim). Kita bisa bayangkan manusia yang barangkali siang dan malam dalam dosa kemudian Allah merenggutnya dengan bencana alam, Allah mengumpulkannya dengan para syuhada’. Inilah kelembutan Tuhanmu yang disampaikan oleh Sayyidina Muhammad SAW bahwa salah satu orang yang tergolong pada kelompok syuhada’ di hari kiamat adalah mereka yang wafat terkena rerobohan, atau orang yang wafat terbakar, atau orang yang wafat tenggelam. Demikian mereka dimuliakan Allah karena terbunuh oleh alam, karena wafat sebab alam maka mereka digolongkan para syuhada’.
Hadirin hadirat..

Adakah anugerah yang lebih mulia dari Sang pemilik Anugerah?, bukankah ini kelembutan?, bukankah ini kasih sayang?, bukankah ini keindahan?. Orang yang telah wafat di dalam gempa bumi atau di dalam kebakaran atau di dalam banjir hingga ia tenggelam dan hingga seandainya Allah izinkan mereka hidup kembali untuk memilih kembali kepada keluarganya atau tetap bersama kelembutan Ilahi , niscaya mereka akan mengatakan ingin kembali kepada Allah karena sudah bersama para Syuhada’, sudah dalam kemuliaan, dalam keluhuran, dalam kelompok Muhajirin dan Anshar, dalam kelompok para syuhada’ Allah SWT. Demikian mereka yang wafat, sedangkan mereka yang kehabisan hartanya atau dalam kesedihan Allah tidak biarkan satu kesedihan pun terkecuali diganjar dengan penghapusan dosa dan pengangkatan derajat. Demikian riwayat belasan hadits dalam Shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim, bahwa tiada satu musibah pun yang menimpa suatu kaum Muslimin terkecuali itu penghapusan dosa baginya, walaupun hanya tertusuk duri kecil sedikit saja pedihnya, itupun sudah Allah SWT jadikan penghapusan dosa, apalagi kalau kesedihan yang besar. Inilah kelembutan yang Maha lembut membenahi dosa hambaNya, namun kita tidak menginginkan musibah maka kembalilah kepada janji Rabbul ‘Alamin SWT :
مَايَفْعَلُ اللهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَأمَنْتُمْ وَكَانَ اللهُ شَاكِرًا عَلِيْمًا . ( النساء : 147
“ Allah tidak akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman. Dan sungguh Allah Maha berterima kasih, Maha Mengetahui “. ( QS. An Nisa’ : 147 )
Dalami keluhuran makna kalimat ini :
وَكَانَ اللهُ شَاكِرًا عَلِيْمًا
Syaakiraa ( berterima kasih ), berterima kasih atas apa Rabbi?, siang dan malam Kau limpahkan kenikmatan pada kami…, kami tidak pernah berjasa padaMu wahai Allah berterima kasih atas apa wahai Allah?, kita tidak pernah memberi manfaat pada Allah :
يَاعِبَادِيْ إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوْا نَفْعِيْ فَتَنْفَعُوْنِيْ، وَلَنْ تَبْلُغُوْا ضُرِّيْ فَتَضُرُّوْنِيْ
“ Wahai hamba-hambaKu jika kalian berbuat kebaikan sebaik-baiknya itu tidak akan bisa membawa manfaat bagiKu,dan kejahatan-kejahatanMu tidak akan bisa mengecohKu atau membuat Aku ( Allah ) rugi “ (Shahih Muslim)
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…
Demikian Allah SWT berfirman di dalam hadits qudsi riwayat Shahih Muslim :
يَاعِبَادِيْ لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوْا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَازَادَ ذلِكَ فِى مُلْكِيْ شَيْئًا, يَاعِبَادِيْ لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوْا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَانَقَصَ ذلِكَ مِنْ مُلْكِيْ شَيْئًا
“ Wahai hamba-hambaKu, jika kalian berkumpul seluruh jin dan manusia yang pertama dan terakhir semuanya baik, bertakwa, beriman, shalih tidak satupun berbuat dosa, tidak bertambah dari kerajaanKu sedikitpun. Wahai hamba-hambaKu jika kalian semua dalam sifat jahat, buruk, pendosa, berbuat kehinaan, maka tidak berkurang dari kerajaanKu sedikitpun”. (Shahih Muslim)
Kerajaan Allah tidak bertambah dan berkurang sedikitpun dari amal baik kita dan keburukan kita. Maka apa makna kalimat :
شَاكِرًا عَلِيْمًا
“ Maha Berterima kasih dan Maha Mengetahui “,
Berterima kasih atas apa wahai Allah?, Allah berterima kasih kepada hambaNya yang bersyukur yang ingin dekat kepadaNya, padahal Allah tidak butuh hambaNya, tidak butuh dosa dan pahalanya, Allah tidak rugi dengan dosa hambaNya tidak beruntung dengan pahala hambaNya, namun Allah dengan kelembutannya berfirman :
وَكَانَ اللهُ شَاكِرًا عَلِيْمًا
Allah itu maha membalas jasa , maha berterima kasih kepada hamba yang mau dekat kepadaNya. Maha berterima kasih menghargai keinginan dan ibadah hambaNya, maha berterima kasih kepada hamba yang mau dekat padaNya, siapa dia?, Maha Raja langit dan bumi..
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…
Kalau seorang pengemis, ada orang kaya mau dekat dengannya maka ia berterima kasih banyak, kamu orang kaya raya sedangkan saya pengemis tapi kau mau dekat dengan saya itu penghargaan besar, itu tentunya demikian. Atau rakyat barangkali pada pimpinannya, sang pemimpin datang kepadanya tentu ia akan berterima kasih. Namun apa maknanya Rabbul ‘Alamin berterima kasih kepada hamba pendosa? namun demikianlah Sang Maha lembut merendahkan diriNya kepada hambaNya agar hamba memahami kelembutannya, agar mereka mau memahami kasih sayangnya, agar mereka mau kembali bersyukur kepadaNya, dan Allah membalas syukurnya.
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ ( إبراهيم : 7
“ Jika kalian bersyukur niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kalian mengingkari maka sungguh azabKu sangat berat “ . ( QS. Ibrahim : 7 )
Kalau seandainya kita bersyukur Allah tambah kenikmatannya, semakin bersyukur maka makin bertambah kenikmatannya, makin kita lupa maka akan datang musibah.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…
Jadi, saudara-saudara kita yang terkena musibah itu, secara lahiriyah mereka rugi dan sedih, tapi hakikatnya mereka dalam kemuliaan, dalam anugerah besar. Yang mesti direnungkan yang dilupakan sebagian besar muslimin adalah melihat mereka yang terkena musibah risau tanpa peduli justru musibah yang paling besar adalah dosa, musibah yang paling besar adalah kemurkaan Allah. Barangkali ada (kemurkaan Allah/dosa) diantara kenikmatan orang-orang yang dalam kenikmatan, (namun) yang dalam kesedihan sedang dikasih sayangi Allah. Namun kita juga perlu berfikir bahwa limpahan kegelapan dosa itu adalah musibah terbesar karena membawa kehinaan yang abadi.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…
Ini musibah lebih besar daripada bencana alam, (lebih besar) dari hari kiamat karena kiamat setelah beberapa saat selesai, tapi musibah kemurkaan Allah abadi.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…
Jeritan abadi, rintihan abadi, kepedihan abadi, kehinaan abadi, kesakitan abadi, apakah ini tidak disebut musibah? Apakah muslimin tidak merenungkannya? Apakah muslimin menganggap musibah sana sini padahal dirinya dalam musibah besar terancam kepada jurang kehinaan yang kekal.
Maka oleh sebab itulah kita kembali dengan kehadiran kita di majelis ini kita bertafakkur. Musibah disana sini, kita doakan mereka yang wafat semoga dikumpulkan bersama para syuhada’, mereka yang kehilangan hartanya semoga diganti dengan pengampunan dan kemakmuran dunia dan akhirah.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..
Allah SWT berfirman di dalam hadits qudsi riwayat Shahih Al Bukhari dan lainnya :
أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ فَلْيَظُنَّ بِيْ مَا شَاءَ
“ Aku bersama prasangka hambaKu, maka berprasangkalah kepadaKu”
Bagaimana sangka mu terhadap Allah, kalau sangkamu seandainya Allah itu tidak mau memaafkan dosa, maka bisa jadi seperti itu, tapi jika kau berprasangka baik dengan kalimat yang suci dan keluhuran jiwa bahwa Sang Maha Pemaaf selalu memaafkan dan tiada bosan menerima taubat. Sampai kapan Allah SWT itu bisa menerima taubat? Dosa lagi taubat lagi, dosa lagi taubat lagi dosa lagi, bukankah itu mempermainkan Allah? (jika hal itu terlintas maka) Itu adalah dari kedangkalan pemahaman kita tentang kasih sayang Allah SWT. Allah Maha berkasih sayang, Allah Maha Mengetahui, firman Allah SWT di dalam hadits qudsi:
يَاعِبَادِيْ إِنَّكُمْ تُخْطِئُوْنَ بِالَّليْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا فَاسْتَغْفِرُوْنِي أَغْفِرْ لَكُمْ
“ Wahai hambaKu sesungguhnya kamu melakukan perbuatan dosa di waktu siang dan malam dan Aku ( Allah ) mengampuni dosa-dosa itu semuanya, maka mintalah ampun kepadaKu pasti Aku mengampuni kamu “
Hadirin hadirat…
Allah maha tahu kita ini digoda oleh iblis dan syaitan, banyak sekali amal pahala kita dan keinginan kita berbuat baik sudah taubat, sudah dalam keadaan suci dan mulia, tapi dikecoh syaitan lagi, bukan seratus persen dari keinginannya (untuk berbuat dosa lagi), tapi dikecoh oleh syetan. Oleh sebab itu, Allah juga tidak bosan-bosannya mengampuni sebagaimana syetan tidak bosan-bosannya menggoda, kalau Allah SWT bosan mengampuni maka menanglah syetan meluluh lantahkan ummat Sayyidina Muhammad SAW. Maka karena syetan tidak berhenti menggoda,melihat hambaNya sudah tobat malah ingin digoda lagi, maka Allah siapkan pengampunan lagi, digoda lagi dikecoh lagi hambaKu, ia tobat lagi Ku ampuni lagi, ayo syetan mau sampai kemana perbuatanmu!
Oleh sebab itu Rabbul ‘Alamin Yang Maha Lembut tidak akan berhenti melimpahkan kemuliaan taubat bagi hamba-hambaNya.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…
Sampailah kita pada hadits mulia ini, dimana Rasul SAW menunjukkan kemuliaan pada semua yang ada di alam semesta ini mengandung keberkahan, tanah bumi, air liur. Rasul SAW mengobati orang sakit dengan menaruhkan ibu jarinya di lidahnya seraya berdoa :
بِسْمِ اللهِ تُرْبَةُ أَرْضِنَا بِرِيْقَةِ بَعْضِنَا يُشْفىَ سَقِيْمُنَا بِإِذْنِ رَبِّنَا
(Bismillah/Demi Nama Allah dg Tanah Bumi Kami, dengan air liur sebagian dari kami, sembuhlah yg sakit dari kami, dengan izin Tuhan Kami)
Lantas menempelkan ibu jarinya di lidahnya, kemudian menyentuhkannya ke bumi lalu mengusapkannya pada yang sakit.
Hadirin hadirat…
Hujjatul Islam wa barakatl anam Al Imam An Nawawy di dalam Fathul Bari bisyarh Shahih Al Bukhari mensyarahkan makna, bahwa tanah itu mempunyai kemuliaan penyembuh, kenapa Sang Nabi menyentuhkan ke tanah, karena asal muasal manusia dari tanah, dan disentuhkan pula pada air liur, ada apa dengan air liur, air liur yang sudah di lewati doa dan zikir itu mulia dan bisa membawa keberkahan, karena ucapan beliau :
بِرِيْقَةِ بَعْضِنَا
“ Dengan air liur sebagian dari kami “, lalu disentuhkan ke bumi kemudian diusapkan, itu untuk menyembuhkan. Makna dari hadits ini kita (saya) sampaikan adalah semua yang ada di alam ini jika disentuh dengan kemuliaan mengandung keberkahan dan kemuliaan. Demikian pula Al Imam An Nawawy Hujjatul Islam wabarakatul Anam menjelaskan di dalam syarah An Nawawiyah di dalam Shahih Muslim, bahwa bertabarruk dan mengambil barakah dari bekas sentuhan para shalihin adalah hal yang mustahab fiihi ( dianjurkan ) dan ini adalah salah satu dalilnya. Jadi, hadirin hadirat..ketika air minta di doakan tidak harus pada shalihin, semua muslim juga bisa mendoakan air. Doakan untuk sahabatmu yang sedang sakit, untuk sahabatmu yang sedang terkena musibah doakan air dengan surah Al Fatihah, boleh tidak? Boleh, siapapun boleh tidak harus para shalihin, tidak harus para ulama’ tapi kalau para ulama’ atau para shalihin tentunya afdhal.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..
Hal seperti ini adalah hal yang mulia dan terbukti dalam ilmu pengetahuan. Tentunya sering kita dengar bahwa Prof. Massaro Emoto yang ketika meneliti air itu berubah menurut emosi orang yang di dekatnya, kalau dilihat dengan mikroskop dg skala tertentu air yang dekat dengan orang yang sedang marah atau mencaci maki maka air itu berubah wujudnya menjadi buruk, sebaliknya jika orang berhati senang, tenang dan damai maka air itu akan berubah wujudnya menjadi lebih indah jika dilihat dengan mikroskop dengan skala tertentu. Hal ini dengan emosi kita air bisa berubah, lebih-lebih lagi dengan doa kalimatullah al ‘ulya (Al Ulya : Luhur dan Mulia).
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…
Demikian indahnya sunnah Nabi kita Muhammad SAW, dan kelembutan Allah SWT itu mencapai untuk seluruh makhlukNya, bukan hanya manusia tapi seluruh makhlukNya diperhatikan dan dilihat oleh Allah SWT.
Diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari, diceritakan oleh Sayyidina Muhammad SAW ketika salah seorang nabi dari Bani Israil yang sedang duduk di bawah pohon, maka ia digigit seekor semut, seekor semut menyakitinya, nabi itu bangun dari tempat duduknya dan memerintah rakyatnya untuk membongkar sarang semut itu dan membakarnya, karena perbuatannya benar secara syariah, kenapa benar? karena semua hewan yang yang mengganggu manusia halal dibunuh, namun kita lihat bagaimana teguran Allah kepada Sang Nabi bersama nabi itu, ini bukan Nabi Muhammad tapi nabi yang diceritakan oleh Nabi Muhammad SAW seorang nabi sebelum beliau. Maka Allah mengirim Jibril dan menegur nabi itu seraya berkata :
فَهَلاَّ نَمْلَةٌ وَاحِدَةٌ
“ Bukankah cuma seekor semut saja? ” yang berbuat kenapa dibakar semuanya.
Seekor semut pun diperhatikan oleh Allah SWT nasibnya, satu yang berbuat kenapa semuanya di bunuh??, demikian teguran Ilahi. Al Imam Ibn Hajar di dalam fathul baari menjelaskan bahwa perbuatan sang nabi itu benar, karena secara syariah semua hewan yang membahayakan manusia boleh dibunuh, tapi adalah didikan kelembutan dari Ilahi khusus untuk nabi itu untuk memberi pelajaran pula kepada kita bahwa bagaimana lembutnya Allah SWT pada seluruh makhlukNya.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..
Demikian sayangnya Allah kepada makhlukNya, maka oleh sebab itulah ketika seseorang menyadari bahwa ia itu milik Allah maka tentunya adakah yang lebih sayang dari Sang Pemilik, kita kalau punya barang mana yang lebih sayang pemiliknya atau orang lain yang meminjam, tentu pemiliknya yang lebih sayang karena miliknya.
Hadirin hadirat yang dimuliakn Allah..
Ketika seseorang mengontrak sebuah rumah misalnya, yang mengontrak barangkali tidak terlalu mengurus, tapi pemiliknya?, lihat celah sedikit saja di rumahnya ia akan repot, kenapa? Karena ia yang memilikinya, demikian terlebih dan lebih lagi Rabbul ‘Alamin terhadap diri kita, semua musibah itu penghapusan dosa namun Allah sudah berfirman :
وَمَا كَانَ اللهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ . ( الأنفال : 33 )
“ Dan tidaklah Allah akan menghukum mereka , selama mereka memohon pengampunan”. ( QS. Al Anfal : 33 )
Ini untuk kita, kalau di masa Sang Nabi Allah berfirman :
وَمَا كَانَ اللهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيْهِمْ . ( الأنفال : 33 )
“ Dan Allah tidak akan menghukum mereka selama engkau ( Muhammad ) berada diantara mereka”. ( QS. Al Anfal :33 )
Kaum musyrikin, kuffar quraisy, pembantai Nabi, penjahat yang merusak dan menyiksa Nabi sejahat apapun, selama engkau (Muhammad) masih di antara mereka maka tidak ada siksaan bagi mereka Rahamatan Lil’alamin. Demikian pula jika cinta Sang Nabi yang ada di dalam jiwa kita maka jauh musibah dari kita, maka makmurkan majelis zikir dan majelis ta’lim maka jauhlah musibah dari kita insyaallah. Bukan hal yang mustahil kalau Jakarta terus dipenuhi dosa dan kesalahan musibah datang di Jakarta lebih besar dari musibah di tempat lainnya, lebih dahsyat dari tsunami di Aceh, lebih dahsyat dari gempa di Sumatera Barat, lebih dahsyat dari gempa di Jogjakarta tidak mustahil, namun barangkali karena banyaknya majelis zikir dan makmur, maka Allah SWT menyingkirkan banyak musibah, sungguh kalau tidak barangkali Jakarta ini sudah dipendam oleh Allah SWT karena Jakarta ini sudah lebih daripada 100 cm di bawah permukaan laut, karena Jakarta ini sudah landai di bawah laut sedikit saja tergenang air laut sudah menenggelamkan seluruh Jakarta.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…
Namun Allah SWT telah berfirman :
وَمَا كَانَ اللهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ
“ Dan tidaklah Allah akan menghukum mereka , selama mereka memohon pengampunan”. ( QS. Al Anfal : 33 )
Di riwayatkan dalam riwayat yang tsiqah bahwa Allah ingin menurunkan suatu musibah pada suatu kaum, maka Allah melihat mereka memakmurkan masjid, mereka beristighfar, mereka berzikir, mereka berdoa maka Allah singkirkan musibah itu daripada mereka dipindahkan ke tempat lain oleh Allah SWT.
Kita bermunajat kepada Allah SWT agar Allah SWT terus membangun jiwa muslimin muslimat yang dengan terhindar dari segala musibah dan dosa , saudara-saudara kita sebagian peduli berangkat ke sana untuk membantu yang disana, silahkan bagi-bagi tugas . Kita Majelis Rasulullah membenahi jiwa agar musibah itu tidak terulang, karena jika jiwa tidak dibenahi musibah akan semakin banyak. Hadirin..kita bermunajat memanggil nama yang maha luhur, Wahai Rabbi benahi keadaan muslimin muslimat, benahi keadaan muslimin muslimat di bumi Jakarta dan di seluruh wilayah Indonesia, dan seluruh wilayah barat dan timur. Dan juga kita berdoa semoga Allah SWT menerangi jiwa kita dengan cahaya keimanan, dengan cahaya keluhuran , dengan cahaya keindahan. Wahai Yang Maha Indah, terbitkan keindahanMu di dalam sanubari kami, terbitkan keindahan cahayaMu di dalam jiwa, hingga kami selalu enggan berbuat maksiat dan selalu semangat berbuat pahala. Ya Rahman Ya Rahim kami memanggil namaMu yang dalam memanggil namaMu itu terbuka beribu-ribu rahmat dan kebahagian, tersingkir beribu-ribu musibah, sebagaimana sabda Nabi Mu Muhammad SAW riwayat Shahih Muslim :
لَاتَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى لَا يُقاَلُ فِي اْلأَرْضِ : اللهُ اللهُ
“ Tiada akan datang hari kiamat selama masih ada di muka bumi yang memanggil nama ALLAH, ALLAH” (Shahih Muslim)
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..
Kiamat itu musibah terbesar jauh lebih dahsyat dari gempa bumi, dari kebakaran, dari banjir, dari angin puyuh dan lain sebagainya, namun itu reda dengan bibir dan jiwa yang memanggil nama ALLAH, ALLAH. Hadirin hadirat..sebuah nama yang maha berwibawa yang dengan itu redalah segala musibah dan kesulitan dalam diri kita, dalam masyarakat kita, dalam bumi kita.
فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا...
(Katakanlah bersama-sama..)
يَا اللهْ يَا اَللهْ يَا اللهْ...يَا اللهُ يَا رَحْمَنُ يَا رَحِيْمُ...لَاإِلهَ إِلَّا الله... مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Hadirin hadirat…demikian kita juga berdoa semoga kebahagiaan dan kemuliaan selalu berlimpah kepada As Syaikh Muhammad Abdullah dari Sidney Australia dan semoga perjuangan dakwahnya di Australia dan wilayah lainnya dilimpahi keberkahan dan pertolongan dari Allah SWT, serta guru kita Al Habib Hud bin Muhammad Bagir Al Atthas, guru kita Al Habib Alwi bin Yahya, guru kita Al Habib Ibrahim Aidid semoga selalu dalam rahmat dan keberkahan Allah SWT. Dan kita ucapkan terimakasih juga kepada personil pengamanan dari POLRES Jakarta Selatan dan POLDA METROJAYA yang turut mengamankan semoga dalam rahmat dan keberkahan dari Allah SWT.
Hadirin hadirat…
Mengenai kaum nisa’ yang tidak diizinkan oleh walinya untuk hadir di majelis, hadir ke majelis tentunya kalau seandainya diizinkan oleh walinya , kalau tidak di izinkan oleh ayah bundanya maka mana yang harus dipilih?, patuhi cinta rasul SAW atau cinta ayah bunda? Cinta Rasul SAW tentunya…, tapi Rasul memerintahkan kita untuk bakti kepada ayah bunda, jadi kalau misalnya seseorang merasa aku mencintai Rasul SAW melebihi ayah bundaku aku barangkali harus hadir majelis, ingat! Rasulullah SAW mengajarkan bakti kepada ayah bunda. Jadi kalau misalnya mau hadir majelis dilarang kau tetap ikuti ayah bundamu, kau mendapatkan taat kepada ayah bunda juga mendapatkan cinta Rasulullah SAW, makanya banyak satu pahala cintanya kepda Rasul SAW, kenapa karena Rasulullah memerintahkan taat kepada ayah bunda, kedua pahala bakti kepada ayah bunda itu pahal jihad fi sabilillah, lantas yang ketiga mendapatkan pahala kehadiran di majelis walaupun tidak hadir, karena niatnya mau hadir tidak bisa hadir karena dilarang orang tua. Tetap patuhi orang tuamu, berlemah lembut pada ayah bunda, Allah akan buka hati mereka dalam waktu dekat insya Allah untuk bisa hadir ke majelis bersama ayah bundamu insya Allah. Pertanyaan juga muncul tentang ziarah nisa’ ke makam, ziarah nisa diperbolehkan riwayat Shahih Al Bukhari, Rasul SAW melewati sebuah kuburan dan melihat seorang wanita yang menangis di kuburan maka Rasul SAW berkata :
اِتَّقِي اللهَ وَاصْبِرِيْ
“ Bertakwalah kepada Allah dan sabarlah “
Rasul SAW tidak mengusirnya dari makam, jadi boleh-boleh saja wanita berziarah ke makam.
Hadirin hadirat…kaum nisa’ (nisa : wanita) ke majelis malam selasa, memang sebenarnya saya juga merasa sebaiknya kaum nisa’ hadir di majelis nisa, yang insya Allah majelis nisa’ ada di markas Majelis Rasulullah setiap minggu sore jam 14.30 sampai selesai. Tapi kalau mau hadir di majelis malam, tentunya kalau diizinkan oleh walinya maka saya tidak bisa berbuat apa-apa kalau walinya mengizinkan, hak saya apa mau melarang nisa hadir ke majelis kalau ayah bundanya mengizinkan. Jadi izin kepada ayah bunda, kalau diizinkan hadir, kalau tidak, (maka) dapat pahala majelis dan dapat pahala kemuliaan cinta kepada ayah bunda dan cinta kepada Rasulullah SAW, demikian hadirin hadirat..jadi majelis nisa yang mau hadir tafaddhal (silahkan) setiap minggu sore di markas kita. Dan juga mengenai sms semakin banyak yang masuk kepada saya, makin hari juga semakin banyak sampai lebih dari 2000 sms setiap harinya maka bagaimana menjawabnya, jadi kalau seandainya semakin hari semakin sedikit yang dijawab bukannya ingin mengecewakan, tapi karena kemampuannya tidak ada untuk menjawab semuanya, oleh sebab itu saya mohon maaf tapi semua sms saya baca, namun tidak semuanya saya mampu membalasnya.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..
Kita akhiri majelis ini dengan kalimah talqin oleh guru kita Fadhilah As Sayyid Ad Da’i ilallah Al Habib Hud bin Muhammad Baqir Al Atthas dan doa penutup, tafaddhal.
Terakhir Diperbaharui ( Friday, 09 October 2009 )

No comments:

Post a Comment